Blog entries   |  Bolehkah Marah?

Bolehkah Marah?

Allah baiikk bangett, selly tuh dari kemarin sedih dan tahu kan kalau sedih ujungnya marah? Marah sama diri sendiri, marah sama orang..complicated dan ujungnya apa? Sakit. Kalau selly gituu, dari hati yang suka ‘mendem’ larinya ke badan, sakit. Jadi hati harus baik baik baik, kalau enggak dia akan merespon ke badan jadi sakit (misal gak memaafkan orang). Nah hari ini selly ikut suami ke kantor, pulangnya ke rumah mertua (papah mamah gak ada di rumah) lalu tidur, bangun sakit badannya, demam. Lalu…mbak birin (yang suka bantu-bantu di rumah, nyuci, masak dll) nyetel radio, isinya ceramah pas selly ngambil air wudhu buat shalat dzuhur. Sekarang hati selly sudah bahagia lagi..Ini isi ceramahnya:
Iman itu seperti pohon dan buahnya adalah kesabaran.
Bagaimana agar marah bisa terkendali?
• Pelajari keutamaan menahan marah, berlaku santun dan sabar, memaafkan orang lain. Al imran 133-134, mempelajari ayat Al-Qur’an, ini juga bisa membantu menahan nafsu marah.
• Umar pernah marah kepada seseorang, lalu memerintahkan menghukum lalu rasul datang da isinya surat Al a’ruf ayat 199, lalu umar membaca ayat al-qur’an dan merenungkan dan tidak jadi marah, melepaskan orang itu.
• ingat murka Allah, kalau kta lepas kendali, Allah murka kepada kita. Jangan sampai Allah murka kepada kita.
• Betapa buruknya saat kita sedang marah, coba bandingkan dengan anjing galak, atau binatang buas lainnya. Bayangkan keadaan orang yang sedang marah dengan wajah yang mulia, yang bestari (bijak) yang sejuk dan damai didalam menghadapi persoalan. Apakah wajah kita seperti anjing galak atau wajah seperti kekasih Allah.
• Cari sebab apa yang membuat kita marah, apakah persoalan sepele atau persoalan yang bisa membahayakan orang lain? Kalau marah yang benar, adalah marah yang diperbolehkan Allah untuk marah. Kalua marah karena isu ga jelas, masalah sepele yang bisa dihindari, kenapa kita mesti marah?. Marah yang boleh seperti apa?, marah yang tidak boleh seperti apa?. Haruskan saya marah? Haruskah saya menahan marah?
• Berlindung kepada Allah, aududzubilla..Aisyah pernah marah, lalu rasulullah memanggil dengan panggilan kesayangan, ya humairah (wahai si merah jambu, karena kulitnya putih kemerah-merahan- suami harus punya panggilan kesayangan). Dipegang hidungnya. Bacalah ini wahai Aisyah, yang artinya – doa untuk menahan marah, ustadnya pake bahasa arab dan cepet dan selly belum bisa bahsa arab, someday saya pasti bisa paham hehe)
• Jika sudah membaca taawuj, dan doa marah, masih juga marah, maka duduklah jika sedang berdiri, duduk masih marah? Maka berbaringlah, jika belum reda marahnya maka mandi.
————–
Ustad, kadang-kadang suami kalau marah suka melampui batas, sampai saya sakit hati.
jawaban: kalau suami sedang marah, kita jangan ikut marah. Apalagi marahnya tidak jelas, atau evaluasi diri, jika marah karena kesalahan kita, kita harus evaluasi. Misal suami tidak suka begini, maka jangan dilakukan. Walaupun suami marah berlebihan tetap tidak boleh. Kalau suami marah, kita dzikir kepada Allah dan doakan suami agar cepat reda, lalu maafkan suami (sudahlah memang tabiatnya begitu, ya sudahlah). Marah boleh Boleh asal:
1. alasannya jelas
2. alasanya sesuai syariat
3. Marahnya tidak berlebihan.

Apakah marah itu mengalah?
Tergantung mengalah dalam hal apa? Seperti jika marah tidak sesuai prinsip. Tapi mengalah untuk menang boleh. Misal menahan marah agar tidak terjadi perkelahian, kemashlatan umat boleh (urusan pribadi) itu bagus malah dianjurkan, agar tidak terjadi hal buruk. Tapi kalau untuk yang prinsip seperti kemusrikan itu marah boleh. Jadi intinya marahnya yang prinsip.
——–
Ustad jika melihat keburukan bolehkah kita marah?
Jawaban: Kita sebagai muslim harus amar ma’ruf nahi munkar, dengan lisan atau minimal hati kita mencegah. Hati kita tetap tidak sepakat, tapi dengan cara sopan menyampaikannya. Meluruskan. Amalan orang yang disukai, mau memberikan nasehat kepada pemimpin yag salah, tapi tetap dengan kalimat yang hak (sopan).
———–
ustadz jika kita mau hijrah, apakah harus dipernaiki akhlak dulu atau pakaian yang syar’i dulu? – Penanya dari Singapura
jawaban:
1. pertama adalah yang dimantapkan adalah niatnya, dari yang batil kepada yang hak, dari yang salah ke benar.
2. Masalah aqidah, misal dulu musrik sekarang tidak. dan pakaian itu termasuk aqidah. jadi harus berbarengan. Tapi kembali lagi ke kemampuan kita, kalau kita belum mampu, yaa itu batas kemampuan tapi harus diperjuangkan. Hak itu harus diperjuangkan dengan mujahadah sungguh-sungguh, walaupun pengalaman syariat itu bertahap sesuai kemampuan kita. semoga ibu diberikan kekuatan sehingga bisa ke jalan hijrah dengan totalitas.
——–
Apakah benar sifat marah itu bukan penyakit turunan?
jawaban: saya tidak tahu persis, jadi harus ahlinya yang bicara misal genetik. Tapi menurut saya masalah baik itu bukan keturunan, nabi nuh justru keturunannya sebagai penentang. Karena ini ikhtiar, masalah pengendalian diri, tergantung kepribadian. Itu akan tumbuh subur tergantung agamanya. Misal umar, berubah setelah dicelup dengan islam, kerasnya jadi yang positif. Jadi bukan tergantung turunan menurut saya
——-
Ustadz, apakah saya salah? meninggalkan suami shalat duluan saat suami masih tidur? Shalatnya sah?
Jawaban: Suaminya dibangunkan dulu. Nanti shalat sama-sama kalau mesjid jauh dari rumah. Idealnya bersama, salahnya bukan shalatnya, suami tidak dibangunkan, shalatnya tetap sah.
———–
Saya punya bos, Bos saya orang islam dan ketika saya ketahuan shalat ashar tepat waktu, bos saya marah. Dia bilang, shalatnya nanti jam 5 setelah jam kantor.
jawaban: seharusnya kebijakan Bos mengikuti dan sesuai perintah Allah.
tapi mungkin bos melarang karena kalau ditinggal shalat pekerjaannya akan bisa merugikan dan mencelakakan, tapi sebaiknya shalat tepat waktu. Kalau melarang, mungkin akan berbahaya saat ditinggal shalat, misal mesin akan..apa.
—–
Marah akan menyebabkan sel akan rusak, kalau hati adem akan menentramkan hati kita, menghadapi persoalan dengan damai.
Apa memang yang dilarang Allah dan Rasul, maka akibatnya aka buruk, kalaupun marah maka alasan pemicunya benar, dan marah tetap terkendali dengan akal dan pikiran yang jernih. Ketika marah, rasul tidak keluar ucapan maksiat sedikit pun. Sekalipun marah tetap terkendali, sehingga hidup kita bermakna, karena hidup ini hakikatnya sedang mengumpulkan nilai-nilai keutamaan untuk akhirat nanti. Bukan harta, bukan popularitas.
Allah sudah memberikan akal budi, diutusnya nabi sehingga kita bisa belajar dari beliau, diajaknya ke surga pula, kurang apa Allah ituu.. Kita manusia udah ngeyel, merengkel. Kecuali orang yang beriman, sehingga hidup ini berarti untuk dijalani.
Ustad Abu Hidayah Sharoji (Maaf yaa kalau ada kesalahan nama, kadang tulisan arab sama ucapan beda tawidnya kalau bahasa arab dan cepet-cepet pembawa acaranya). selesai di jam 14:45
—————-
Terima kasih ya Allah..Engkau selalu memberikan petunjukmu, Cukup Allah bagiku. Bangunlah jiwanya baru badannya, kalau jiwanya sakit pengaruh ke badan kalau selly..jadi hati haruus selalu baik baik baikk dan maafkan maafkan maafkan.
Selly masukan ke kategori ‘Jenderal Wanita’, semoga para jenderal di kerjaan selly jadi dinding yang kuat untuk diri sendiri, keluarga, agama juga Bangsa Indonesia. Menjadi istri yang shalehah, mendidik generasi bangsa untuk sukses di dunia dan di akhirat. Berbakti kepada nusa dan bangsa dan meninggal dalam keadaan khusnul khatimal.

sellymartinelly7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *